GERAKAN LITERASI SMAN 1 JONGGAT

Bagikan artikel ini ke:

Pada abad ke-21 ini, kemampuan berliterasi peserta didik berkaitan erat dengan tuntutan keterampilan membaca yang berujung pada kemampuan memahami  informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Akan tetapi, pembelajaran disekolah saat ini belum mampu mewujudkan hal tersebut. Pada tingkat sekolah menengah (usia 15 tahun) pemahaman membaca peserta didik Indonesia (selain matematika dan sains) diuji oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD—Organization for Economic Cooperation and Development) dalam Programme for International Student Assessment (PISA).

PISA 2009 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 493), sedangkan PISA 2012 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-64 dengan skor 396 (skor ratarata OECD 496) (OECD, 2013). Sebanyak 65 negara berpartisipasi dalam PISA 2009 dan 2012. Dari kedua hasil ini dapat dikatakan bahwa praktik pendidikan yang dilaksanakan di sekolah belum memperlihatkan fungsi sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang berupaya menjadikan semua warganya menjadi terampil membaca untuk mendukung mereka sebagai pembelajar sepanjang hayat.

Berdasarkan hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan gerakan literasi sekolah (GLS) yang melibatkan semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan. Selain itu, pelibatan unsur eksternal dan unsur publik, yakni orang tua peserta didik, alumni, masyarakat, dunia usaha dan industri juga menjadi komponen penting dalam GLS.

GLS dikembangkan berdasarkan sembilan agenda prioritas yang terkait dengan tugas dan fungsi Kemendikbud beserta jajarannya sampai level satuan pendidikan sebagaimana tercantum dalam butir Nawacita. Butir Nawacita yang dimaksudkan adalah (5) meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia; (6) meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya; (8) melakukan revolusi karakter bangsa; (9) memperteguh kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia. Empat butir Nawacita tersebut terkait erat dengan komponen literasi sebagai modal pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas, produktif dan berdaya saing, berkarakter, serta nasionalis.

Untuk melaksanakan kegiatan GLS, diperlukan suatu program yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah (2016). Buku program GLS ini berisi penjelasan pelaksanaan kegiatan literasi yang terbagi menjadi tiga tahap, yakni: pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran beserta langkah-langkah operasional pelaksanaan dan pelaksanaan praktis instrumen penyertanya yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Jonggat.

  • TUJUAN

1. Tujuan Umum

Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah di SMA Negeri 1 Jonggat agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.

2. Tujuan Khusus

a. Menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah.

b. Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat.

c. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan.

d. Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragambuku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.

  • RUANG LINGKUP

Program GLS ini berisi penjabaran pelaksanaan kegiatan literasi di SMA Negeri 1 Jonggat  yang terbagi menjadi tiga tahap, yakni: pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Ruang lingkup GLS di SMA Negeri 1 Jonggat , meliputi:

1. lingkungan fisik sekolah (ketersediaan fasilitas, sarana prasarana literasi);

2. lingkungan sosial dan afektif (dukungan dan partisipasi aktif semua warga sekolah) dalam melaksanakan kegiatan literasi di SMA Negeri 1 Jonggat ; dan

3. lingkungan akademik (adanya program literasi yang nyata dan bisa

dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah).

TAHAP GERAKAN LITERASI DI SMA NEGERI 1 JONGGAT

  1. KOMPONEN LITERASI

Ferguson menjabarkan bahwa komponen literasi informasi yang terdiri atas literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual. Komponen literasi tersebut dijelaskan sebagai berikut :

1. Literasi Dasar (Basic Literacy)

Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.

2. Literasi Perpustakaan (Library Literacy)

Literasi Perpustakaan (Library Literacy), antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.

3. Literasi Media (Media Literacy)

Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya.

4. Literasi Teknologi (Technology Literacy)

Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware),peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam praktiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta mengoperasikan program perangkat lunak.Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.

5. Literasi Visual (Visual Literacy)

Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audiovisual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang tidak terbendung, baik dalam bentuk cetak, auditori, maupun digital (perpaduan ketiganya disebut teks multimodal), perlu dikelola dengan baik. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benar-benar perlu disaring berdasarkan etika dan kepatutan.

Program literasi di SMA Negeri 1 Jonggat dilaksanakan dalam bentuk kegiatan sebagai berikut   :

No.KomponenProgram Kegiatan
Tahap            PembiasaanTahap PengembanganTahap    Pembelajaran
1.Literasi   DasarMembaca 15 menit sebelum kegiatan belajar setiap hariMendiskusikan bacaanMenuliskan analisis terhadap bacaan
2.Literasi PerpustakaanMencari bahan pustaka yang diminati untuk Kegiatan membaca 15 menitMenggunakan perpustakaan sebagai sumber informasi dalam diskusi tentang bacaanMencantumkan daftar pustaka dalam laporan tugas/praktik setiap mata pelajaran
3.Literasi MediaMembaca berita dari media cetak/ daring dalam kegiatan membaca 15 menitMendiskusikan berita dari media cetak/daringMembuat komunitas pembelajaran untuk diskusi dan berbagi informasi terkait pemahaman mata pelajaran antar teman, guru, dan antarsekolah
4.Literasi TeknologiMembaca buku elektronikMemberikan komentar terhadap buku elektronikSetiap mata pelajaran memanfaatkan teknologi komputasi, searching, dan share) dalam mengolah, menyaji, melaporkan hasil kegiatan/ laporan
5.Literasi VisualMembaca film atau iklan pendekMendiskusikan film atau iklan pendekMenggunakan aplikasi video/film dalam menyaji dan melaporkan kegiatan hasil praktik/diskusi/ observasi melalui website sekolah, youtube, dll.
  • KEGIATAN PADA TAHAP PEMBIASAAN
  • Tujuan kegiatan literasi di tahap pembiasaan
  • Kegiatan literasi di tahap pembiasaan, yakni membaca dalam hati. Secara umum, kegiatan membaca ini memiliki tujuan, antara lain:

a. meningkatkan rasa cinta baca di luar jam pelajaran;

b. meningkatkan kemampuan memahami bacaan;

c. meningkatkan rasa percaya diri sebagai pembaca yang baik; dan

d. menumbuhkembangkan penggunaan berbagai sumber bacaan.

  • Kegiatan membaca ini didukung oleh penumbuhan iklim literasi sekolah yang baik. Dalam tahap pembiasaan, iklim literasi sekolah diarahkan pada pengadaan dan pengembangan lingkungan fisik, seperti:

a. buku-buku nonpelajaran (novel, kumpulan cerpen, buku ilmiah populer, majalah, komik, dsb.);

b. sudut baca kelas untuk tempat koleksi bahan bacaan; dan

c. poster-poster tentang motivasi pentingnya membaca.

  • Prinsip kegiatan literasi di tahap pembiasaan

Prinsip-prinsip kegiatan membaca di dalam tahap pembiasaan dipaparkan berikut ini.

a. Guru menetapkan waktu 15 menit membaca setiap hari. Sekolah bisa memilih menjadwalkan waktu membaca di awal, tengah, atau akhir pelajaran, bergantung pada jadwal dan kondisi sekolah masing-masing. Kegiatan membaca dalam waktu pendek, namun sering dan berkala lebih efektif daripada satu waktu yang panjang namun jarang (misalnya 1 jam/minggu pada hari tertentu).

b. Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku nonpelajaran.

c.   Peserta didik dapat diminta membawa bukunya sendiri dari rumah.

d. Buku yang dibaca/dibacakan adalah pilihan peserta didik sesuai minat dan hobi.

e. Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap ini tidak diikuti oleh tugas-tugas yang bersifat tagihan/penilaian.

f.   Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap ini dapat diikuti oleh diskusi informal tentang buku yang dibaca/dibacakan. Meskipun begitu, tanggapan peserta didik bersifat opsional dan tidak dinilai.

g. Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap ini berlangsung dalam suasana yang santai, tenang, dan menyenangkan. Suasana ini dapat dibangun melalui pengaturan tempat duduk, pencahayaan yang cukup terang dan nyaman untuk membaca, poster-poster tentang pentingnya membaca.

h. Dalam kegiatan membaca dalam hati, guru sebagai pendidik juga ikut membaca buku selama 15 menit.

  • Jenis kegiatan tahap pembiasaan

a. Membaca selama 15 menit setiap hari melalui kegiatan  :

1) guru membacakan kutipan buku dengan nyaring dan mendiskusikannya,

2) peserta didik membaca mandiri.

Tujuan kegiatan ini adalah:

1) memotivasi peserta didik untuk mau dan terbiasa membaca;

2) menunjukkan bahwa membaca sesuatu kegiatan yang menyenangkan;

3) memperkaya kosakata (dalam bahasa tulisan);

4) menjadi sarana berkomunikasi antara peserta didik dan guru;

5) mengajarkan strategi membaca;

6) guru sebagai teladan membaca (reading role model).

b. Membaca buku dengan memanfaatkan peran perpustakaan

Dalam praktiknya perpustakaan sekolah menyelenggarakan kegiatan penunjang keterampilan literasi informasi bagi para peserta didik. Keterampilan ini kemudian diterapkan peserta didik saat mereka mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru bidang mata pelajaran yang diajarkan melalui tugas meringkas atau membuat sinopsis buku.

         Tujuan

          1) Memperkenalkan proses membaca.

2) Mengembangkan kemampuan membaca secara efektif.

          3) Meningkatkan kemampuan pemahaman bahan bacaan yang efektif

Langkah-langkah Membaca Buku dengan Memanfaatkan Peran Perpustakaan

No.Langkah-langkahOutput
1.Literasi   DasarBerdasarkan informasi perpustakaan yang dijelaskan oleh pustakawan, peserta didik memilih buku yang tepat sesuai dengan tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran.Melakukan pra-baca dan baca ulang dengan tujuan mengetahui jalannya cerita.
2.Saat membacaMengingat pokok pikiran yang dituliskan di buku.Membuat jembatan keledai untuk membantu mengingat isi buku.
3.Setelah membacaMembuat pokok pikiran dengan kalimat lengkap.Membuat peta cerita atau bingkai cerita.Membuat ringkasan lengkap atau sinopsis buku

c. Membaca terpandu (Guided Reading)

Guru memandu siswa membaca, bisa dilakukan dalam kelompok yang lebih kecil.

Tujuan

1) Strategi untuk secara aktif meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap bacaan.

2) Menganalisis bacaan.

3) Membuat tanggapan terhadap bacaan.

4) Membuat peserta didik mampu membaca mandiri.

Langkah-langkah membaca terpandu (Guided Reading)

No.Langkah-langkahOutput
1.Sebelum membaca terpaduMemilih buku yang baik, konten dapat disesuaikan atau mendukung tema atau sub-tema materi ajar. Melakukan pra-baca dan baca ulang dengan tujuan:mengetahui jalannya cerita sudah mengetahui letak tanda-tanda baca sehingga memungkinkan untuk mengatur intonasi suara agar menarik atau menentukan kapan harus jeda;mengantisipasi pertanyaan yang muncul;melakukan  prediksi atau menghubungkan dengan hal-hal tertentu; danmerencanakan tujuan membaca.
2.Saat membaca terpaduDapat dimulai dengan peserta didik membaca.Dilanjutkan dengan guru mengajukan beberapa pertanyaanMenciptakan percakapan antara guru dan peserta didik     mengenai buku atau bahan bacaan. Meminta peserta didik membuat catatan dari buku (atau bahan bacaan), kosakata baru, kalimat yang menarik, tokoh utama atau tokoh menarik.
3.Setelah membaca terpaduPeserta didik mampu menceritakan kembali dengan kata-katanya sendiri.Peserta didik mempunyai pemahaman tentang bahan bacaan.Membuat peta cerita atau bingkai cerita

d. Membaca Mandiri (Independent Reading)

Peserta didik diberi tugas membaca dan menuangkan pokok pikiran , baik secara terbuka maupun dipandu dengan pertanyaan.

Tujuan

1) Mengasah kemandirian peserta didik dalam membaca.

2) Mengevaluasi kefasihan peserta didik memahami isi bacaan.

3) Membangun tanggung jawab.

Langkah-langkah peserta didik membaca mandiri (Independent Reading)

No.Langkah-langkahOutput
1.Sebelum membaca mandiriMemilih buku yang baik, konten dapat disesuaikan atau mendukung tema atau subtema materi ajar. Melakukan pra-baca dan baca ulang dengan tujuan:mengetahui jalannya cerita sudah mengetahui letak tanda-tanda baca sehingga memungkinkan untuk mengatur intonasi suara agar menarik atau menentukan kapan harus jeda;mengantisipasi pertanyaan yang muncul;melakukan  prediksi atau menghubungkan dengan hal-hal tertentu; danmerencanakan tujuan membaca.
2.Saat membaca mandiriMeminta peserta didik untuk membaca.Menjadikan buku (bahan bacaan) sebagai bahan diskusi.
3.Setelah membaca mandiriMencari informasi mengenali judul buku yang dibaca, mengenai pengarang maupun ilustrator.Membuat daftar kosakata baru.Membuat peta cerita atau bingkai cerita.Membuat kegiatan lanjutan yang berhubungan dengan topik.
  • Indikator Ketercapaian GLS Tahap Pembiasaan

Dari kegiatan literasi yang dijelaskan di atas, sekolah dapat melakukan evaluasi diri untuk mengukur ketercapaian pelaksanaan literasi tahap pembiasaan di SMA. Sebuah kelas atau sekolah dapat dikatakan siap untuk masuk dalam  tahap berikutnya, yakni tahap pengembangan literasi SMA bila telah melakukan pembiasaan 15 menit membaca (membaca dalam hati dan membacakan nyaring) dalam kurun waktu tertentu. Setiap kelas atau sekolah berkemungkinan berbeda dalam hal pencapaian tahap kegiatan literasi.

Berikut ini adalah beberapa indikator yang dapat digunakan untuk rujukan apakah sekolah dapat meningkatkan kegiatan literasinya dari tahap pembiasaan ke tahap pengembangan. Apabila semua indikator tahap pembiasaan ini terpenuhi, sekolah dapat meningkatkan diri ke tahap pengembangan.

  1. Ada kegiatan 15 menit membaca (membaca dalam hati, membacakan nyaring) yang dilakukan setiap hari (di awal, tengah, atau menjelang akhir pelajaran).
  2. Kegiatan 15 menit membaca telah berjalan selama minimal 1 semester.
  3. Peserta didik memiliki jurnal membaca harian
  4. Guru, kepala sekolah, dan/atau tenaga kependidikan menjadi model dalam kegiatan 15 menit membaca dengan ikut membaca selama kegiatan berlangsung.
  5. Ada perpustakaan, sudut baca di tiap kelas, dan area baca yang nyaman dengan koleksi buku nonpelajaran.
  6. Ada poster-poster kampanye membaca di kelas, koridor, dan/atau area lain di sekolah.
  7. Ada bahan kaya teks yang terpampang di tiap kelas
  8. lingkungan yang bersih, sehat dan kaya teks. Terdapat poster-poster tentang pembiasaan hidup bersih, sehat, dan indah.
  9. Sekolah berupaya melibatkan publik (orang tua, alumni, dan elemen masyarakat) untuk mengembangkan kegiatan literasi sekolah.
  10. Kepala sekolah dan jajarannya berkomitmen melaksanakan dan mendukung gerakan literasi sekolah.
  11. TAHAP PEGEMBANGAN

Pada prinsipnya, kegiatan literasi pada tahap pengembangan sama dengan kegiatan pada tahap pembiasaan. Yang membedakan adalah bahwa kegiatan 15menit membaca diikuti oleh kegiatan tindak lanjut pada tahap pengembangan.Dalam tahap pengembangan, peserta didik didorong untuk menunjukkan keterlibatan pikiran dan emosinya dengan proses membaca melalui kegiatan produktif secara lisan maupun tulisan. Perlu dipahami bahwa kegiatan produktif ini tidak dinilai secara akademik. Mengingat kegiatan tindak lanjut memerlukan waktu tambahan di luar 15 menit membaca, sekolah didorong untuk memasukkan waktu literasi dalam jadwal pelajaran sebagai kegiatan membaca mandiri atau sebagai bagian dari kegiatan kokurikuler.

  • Tujuan Kegiatan Literasi di Tahap Pengembangan.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan di tahap pembiasaan, kegiatan 15 menit membaca di tahap pengembangan diperkuat oleh berbagai kegiatan tindak lanjut yang bertujuan untuk :

  1. mengasah kemampuan peserta didik dalam menanggapi buku pengayaan secara     lisan dan tulisan;
  2. membangun interaksi antarpeserta didik dan antara peserta didik dengan guru tentang buku yang dibaca;
  3. mengasah kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis, analitis, kreatif, dan inovatif; dan
  4. mendorong peserta didik untuk selalu mencari keterkaitan antara buku yang dibaca dengan diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.
  • Prinsip-prinsip Kegiatan Literasi di Tahap Pengembangan.

Dalam melaksanakan kegiatan tindak lanjut, beberapa prinsip yang perlu

dipertimbangkan dipaparkan sebagai berikut:

  1. Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku selain buku teks pelajaran. Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku yang diminati oleh peserta didik. Peserta didik diperkenankan untuk membaca buku yang dibawa dari rumah;
  2. Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap ini dapat diikuti oleh tugas-tugas presentasi singkat, menulis sederhana, presentasi sederhana, kriya, atau seni peran untuk menanggapi bacaan, yang disesuaikan dengan jenjang dan kemampuan peserta didik.
  3. Tugas-tugas presentasi, menulis, kriya, atau seni peran dapat dinilai secara nonakademik dengan fokus pada sikap peserta didik selama kegiatan. Tugas-tugas yang sama nantinya dapat dikembangkan menjadi bagian dari penilaian akademik bila kelas/sekolah sudah siap mengembangkan kegiatan literasi ke tahap pembelajaran.
  4. Kegiatan membaca/membacakan buku berlangsung dalam suasana yang menyenangkan. Untuk memberikan motivasi kepada peserta didik, guru sebaiknya memberikan masukan dan komentar sebagai bentuk apresiasi.
  5. Pembentukan  Tim Literasi Sekolah (TLS) SMAN 1 Jonggat. Tujuan pembentukan tim adalah untuk menunjang keterlaksanaan berbagai kegiatan tindak lanjut GLS yang bertugas untuk merancang, mengelola, dan mengevaluasi program literasi sekolah. sekolah. Adapun TLS beranggotakan guru serta tenaga kependidikan dan pustakawan sekolah di SMA Negeri 1 Jonggat.
  • Jenis Kegiatan Tahap Pengembangan.

Ada berbagai kegiatan tindak lanjut yang dilakukan guru setelah kegiatan 15 menit membaca. Dalam tahap pengembangan ini, kegiatan tindak lanjut dilakukan secara berkala 2 minggu sekali. Berikut adalah beberapa kegiatan tindak lanjut disertai dengan penjelasan singkat dan pedoman atau rubrik untuk masing-masing kegiatan yang di lakukan di SMA Negeri 1 Jonggat.

  1. Menulis komentar singkat terhadap buku yang dibaca di jurnal membaca harian.

Jurnal membaca harian membantu peserta didik dan guru untuk memantau jenis dan jumlah buku yang dibaca untuk kegiatan membaca 15 menit, terutama membaca dalam hati. Jurnal ini dapat digunakan untuk semua jenjang pendidikan.

Jurnal membaca harian dibuat secara sederhana atau rinci. Peserta didik mengisi sendiri jurnal hariannya, dengan menyebutkan judul buku, pengarang, genre, dan jumlah halaman yang dibaca, serta informasi lain yang dikehendaki.

Jurnal membaca dapat berupa buku, kartu, atau selembar kertas dalam portofolio kegiatan membaca. Guru dapat memeriksa jurnal membaca secara berkala yang dilaksanakan 2 minggu sekali.

  • Bedah Buku.

Bedah Buku atau yang dikenal dengan resensi buku (a book review) secara sederhana dapat diartikan sebuah kegiatan mengungkapkan kembali isi suatu buku secara ringkas dengan memberikan saran terkait dengan kekurangan dan kelebihan buku tersebut menurut aturan yang berlaku umum atau yang telah

ditentukan. Kegiatan ini juga dapat mengungkapkan apakah peserta didik

          1) menyukai buku yang dia baca;

2) mampu menangkap tema dan pokok pikiran dalam buku itu;

3) memahami elemen-elemen cerita; atau

4) memiliki kepercayaan diri untuk berbicara di depan kelas.

Sebelum guru memutuskan melakukan kegiatan ini, guru perlu sering memberikan contoh bagaimana meringkas, menceritakan kembali, dan menanggapi isi buku. Pemberian contoh ini dapat dilakukan selama kegiatan membaca dalam hati di tahap pembiasaan dan pengembangan. Dengan demikian, pada saat tahap pengembangan, peserta didik sudah mengetahui cara meringkas, menceritakan kembali, dan menanggapi isi buku secara lisan maupun tulisan.

  • Reading Award.

Penghargaan kepada siswa diberikan ketika siswa telah menyelesaikan tugas membaca buku dan telah menuntaskan tagihan sederhananya. Tujuan dari reading award ini adalah memberikan motivasi kepada siswa agar dapat menambah lagi buku-buku yang dibaca.

  • Mengembangkan Iklim Literasi Sekolah.

Untuk menunjang keberhasilan kegiatan 15 menit membaca dan tindak lanjut di tahap pengembangan, sekolah mengembangkan iklim literasi sekolah dilingkungan SMA Negeri 1 Jonggat. Pada tahap pembiasaan sekolah mengutamakan pembenahan lingkungan fisik, dalam tahap pengembangan ini sekolah mengembangkan lingkungan sosial dan afektif. Lingkungan sosial dan afektif dalam iklim literasi sekolah dengan mendorong sekolah untuk memberikan penghargaan terhadap prestasi nonakademik peserta didik. Dalam hal ini, sekolah memberikan penghargaan terhadap peserta didik yang menunjukkan pencapaian baik dalam kegiatan literasi. Selain itu, sekolah juga menyelenggarakan kegiatan yang bersifat membangun suasana kolaboratif dan apresiatif terhadap program literasi dengan cara mengadakan seminar tentang literasi.

  • Indikator Kegiatan Literasi Sekolah pada Tahap Pengembangan

Kelas/sekolah dapat menentukan ketercapaian kegiatan literasi pada tahap pengembangan dengan menggunakan indikator-indikator di bawah ini.

  1. Ada kegiatan 15 menit membaca  :
    1. Membaca dalam hati dan/atau
    1. Membacakan nyaring, yang dilakukan setiap hari (di awal, tengah, atau menjelang akhir pelajaran) 
  1. Ada berbagai kegiatantindak lanjut dalam bentuk menghasilkan tanggapan secara lisan maupun tulisan.
  2. Peserta didik memiliki portofolio yang berisi kumpulan jurnal tanggapan membaca.
  3. Guru menjadi model dalam kegiatan 15 menit membaca dengan ikut membaca selama kegiatan berlangsung.
  4. Tagihan lisan dan tulisan digunakan sebagai penilaian nonakademik
  5. Jurnal tanggapan membaca peserta didik dipajang di kelas dan/atau koridor sekolah.
  6. Perpustakaan, sudut baca di tiap kelas, dan area baca yang nyaman dengan koleksi buku non-pelajaran dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan literasi.
  7. Ada penghargaan terhadap pencapaian peserta didik dalam kegiatan literasi secara

berkala.

  1. Ada poster-poster kampanye membaca.
  2. Ada kegiatan akademik yang mendukung budaya literasi sekolah, misalnya:

wisata ke perpustakaan atau kunjungan perpustakaan keliling ke sekolah.

  1. Ada kegiatan perayaan  hari-hari tertentu yang bertemakan literasi
  2. Ada Tim Literasi Sekolah yang dibentuk oleh kepala sekolah dan terdiri atas guru bahasa, guru mata pelajaran lain, dan tenaga kependidikan.
  3. TAHAP PEMBELAJARAN
    1. Tujuan Kegiatan Literasi di Tahap Pembelajaran

Kegiatan berliterasi pada tahap pembelajaran bertujuan  :

  1. mengembangkan kemampuan memahami teks dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi sehingga terbentuk pribadi pembelajar sepanjang hayat;

b. mengembangkan kemampuan berpikir kritis; dan

c. mengolah dan mengelola kemampuan komunikasi secara kreatif (verbal, tulisan, visual, digital) melalui kegiatan menanggapi teks buku bacaan dan buku pelajaran buku pelajaran.

  • Prinsip-prinsip Kegiatan Literasi di Tahap Pembelajaran

Kegiatan pada tahap ini dilakukan untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum 2013 yang mensyaratkan peserta didik membaca buku nonteks pelajaran. Beberapa prinsip yang perlu dipertimbangkan dalam tahap pembelajaran ini, antara lain :

a. buku yang dibaca berupa buku tentang pengetahuan umum, kegemaran,  minat khusus, atau teks multimodal, dan juga dapat dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu; dan

b. ada tagihan yang sifatnya akademis (terkait dengan mata pelajaran).

  • Jenis Kegiatan Literasi Tahap Pembelajaran

Dalam tahap pembelajaran ini berbagai jenis kegiatan dapat dilakukan, antara lain:

a. Lima belas menit membaca setiap hari sebelum jam pelajaran melalui kegiatan membacakan buku dengan nyaring, membaca dalam hati, membaca bersama, dan/atau membaca terpandu diikuti kegiatan lain dengan tagihan non-akademik atau akademik.

b. Kegiatan literasi dalam pembelajaran dengan tagihan akademik

c. Melaksanakan berbagai strategi untuk memahami teks dalam semua mata pelajaran (misalnya, dengan menggunakan graphic organizers).

d. Menggunakan lingkungan fisik, sosial dan afektif, dan akademik disertai  beragam bacaan (cetak, visual, auditori, digital) yang kaya literasi di luar buku teks pelajaran untuk memperkaya pengetahuan dalam mata pelajaran.

e. Penulisan biografi siswa-siswa dalam satu kelas sebagai proyek kelas

  • Indikator Ketercapaian GLS Tahap Pembelajaran

Dalam tahap pembelajaran, semua kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan tindak lanjut di tahap pengembangan dapat diteruskan sebagai bagian dari pembelajaran dan dinilai secara akademik. Kelas/sekolah dapat menentukan ketercapaian kegiatan literasi pada tahap pembelajaran dengan menggunakan indikator-indikator berikut ini.

  1. Kegiatan membaca pada tempatnya (selain 15 menit sebelum pembelajaran) sudah membudaya dan menjadi kebutuhan warga sekolah (tampak dilakukan oleh semua warga sekolah).
  2. Kegiatan lima belas menit membaca setiap hari sebelum jam pelajaran diikuti kegiatan lain dengan tagihan non-akademik atau akademik.
  3. Ada pengembangan berbagai strategi membaca.
  4. Kegiatan membaca buku nonpelajaran yang terkait dengan buku pelajaran dilakukan oleh peserta didik dan guru (ada tagihan akademik untuk peserta didik).
  5. Ada berbagai kegiatan tindak lanjut dalam bentuk menghasilkan tanggapan secara lisan maupun tulisan (tagihan akademik).
  6. Melaksanakan berbagai strategi untuk memahami teks dalam semua mata pelajaran (misalnya, dengan menggunakan graphic organizers).
  7. Tagihan lisan dan tulisan digunakan sebagai penilaian akademik
  8. Peserta didik menggunakan lingkungan fisik, sosial, afektif, dan akademik disertai beragam  bacaan (cetak, visual, auditori, digital) yang kaya literasi di luar buku teks pelajaran untuk memperkaya pengetahuan dalam mata pelajaran.
  9. Jurnal tanggapan peserta didik dari hasil membaca buku bacaan dan buku pelajaran  (hasil tagihan akademik) dipajang di kelas dan/atau koridor sekolah.
  10. Ada penghargaan terhadap pencapaian peserta didik dalam kegiatan berliterasi

(berdasarkan tagihan akademik).

  1. Ada poster-poster kampanye membaca untuk memperluas pemahaman dan tekat warga sekolah untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.
  2. Ada unjuk karya (hasil dari kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berkomunikasi secara kreatif secara verbal, tulisan, visual, atau digital) dalam perayaan hari-hari tertentu yang bertemakan literasi.
  3. Perpustakaan sekolah menyediakan beragam buku bacaan (buku-buku nonpelajaran: fiksi dan nonfiksi) yang diperlukan peserta didik untuk memperluas pengetahuannya dalam pelajaran tertentu.
  4. Tim Literasi Sekolah bertugas melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen

program literasi sekolah.

  1. Sekolah berjejaring dengan pihak eksternal untuk pengembangan program literasi sekolah dan pengembangan profesional warga sekolah tentang literasi.
  • TIM LITERASI SEKOLAH (TLS)

Gerakan literasi di SMA Negeri Jonggat diorganisasikan oleh tim literasi sekolah dengan rincian sebagai berikut.

  1. Kepala sekolah menugaskan tim dengan surat penugasan resmi
    1. Tim literasi terdiri atas: wakil kepala sekolah, kepala perpustakaan, staf sarana prasarana, guru bahasa, dan tenaga kependidikan.
    1. Tim bertugas merancang, melaksanakan, melaporkan, dan mengevaluasi pelaksanaan gerakan literasi di sekolah.
    1. Dalam melaksanakan tugas, tim berkoordinasi dengan wali kelas, BK, dan bagian kesiswaan.
    1. Tim berada di bawah koordinasi langsung kepala sekolah

Peran Tim Literasi Sekolah dalam mengembangkan kegiatan literasi sekolah mengkoordinasikan kegiatan pengembangan literasi sekolah bekerja sama dengan kepala sekolah, pustakawan, dan guru kelas. Apabila sumber daya manusia memungkinkan, Tim Literasi Sekolah dapat membentuk tim khusus, yang bertugas:

1. mengawasi, memonitor, dan memastikan kelangsungan program-program literasi sekolah;

2. membuat jaringan eksternal dengan pihak-pihak lain (pemerintah lokal,  bisnis usaha, atau komunitas lain yang memiliki visi dan misi sama) untuk mendukung kegiatan literasi sekolah;

3. pertemuan rutin untuk membahas rencana dan perkembangan kinerja program literasi sekolah;

4. mengkoordinir orang tua/wali murid untuk mendukung fasilitas dan kelengkapan koleksi sudut buku kelas dan perpustakaan;

5.  bekerja sama dengan kepala sekolah, pustakawan, dan guru kelas, atau dunia bisnis, untuk menyelenggarakan kegiatan seperti bedah buku, festival atau bazar buku, talk show terkait buku dan kampanye membaca, dan kegiatan lain untuk merayakan buku dan untuk menghidupkan tokoh-tokoh cerita dalam buku untuk lebih mendekatkan peserta didik pada buku berkualitas; dan

6. secara berkala mengkoordinir bedah buku-buku pendidikan, pengajaran, dan keayah-bundaan yang mellibatkan partisipasi orang tua, guru, dan pustakawan.

  • ORANG TUA/WALI PESERTA DIDIK

Tujuan pelibatan peran orang tua adalah untuk:

  1. meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya upaya terpadu dalam mengembangkan pembiasaan literasi putra/putri mereka;
  2. menularkan praktik program literasi di sekolah dan memastikan keberlangsungan dan konsistensi antara kegiatan literasi di sekolah dan di rumah;
  3. menciptakan sebanyak mungkin model teladan literasi, yang terdiri dari guru, orang tua, anggota keluarga dan orang dewasa lain dalam kehidupan peserta didik yang gemar membaca;
  4. membantu pelaksanaan program literasi di sekolah;
  5. Membuat peserta didik nyaman belajar di sekolah karena terjalin komunikasi

dan hubungan baik antara orang tua dan sekolah;

6. contoh program pelibatan partisipasi orang tua dalam program gerakan literasi;

7. seminar, bincang-bincang/talk show tentang pembimbingan remaja bersiap menjadi dewasa, pembimbingan peserta didik menyiapkan dunia perkuliahan, dsb;

8. melibatkan peran orang tua dalam mengembangkan sudut buku, area baca, dan perpustakaan, misalnya melalui:

a.    Menyumbang buku baru/bekas, majalah bekas, materi kaya teks, dan bahan kaya cetak lain untuk sudut buku kelas dan perpustakaan.

b.    Bekerjasama dengan guru untuk membimbing peserta didik melakukan

kegiatan literasi di rumah

c.    Orang tua menjadi relawan untuk memilih buku yang tepat bagi usia

remaja

d.    Orang tua menjadi relawan untuk memilih buku yang tepat bagi usia

remaja

  • DUNIA BISNIS DAN USAHA

Pelibatan peran dunia bisnis dan usaha bertujuan sebagai berikut :

  1. mendukung kelangsungan program literasi di sekolah;
  2. menjadi teladan bagi peserta didik bahwa literasi harus dikembangkan sebagai bagian dari identitas dan budaya masyarakat.

Bentuk keterlibatan dunia bisnis dan usaha dalam literasi sekolah sebagai berikut :

  1. Penerbit buku dapat mengirim katalog buku anak, sampel buku-buku baru kepada guru dan meminta mereka untuk memberikan ulasan terhadap penerbitan buku-buku tersebut. Penerbit dapat juga mendukung talk show dan bedah buku di sekolah dengan mengundang penulis buku. Penerbit juga dapat menyumbangkan bahan kaya teks yang mendukung kampanye dan pembiasaan membaca, atau poster-poster sampul buku remaja yang menarik untuk dipajang di dinding sudut buku kelas dan perpustakaaan sekolah.
  2. Dunia usaha dan industri dapat mendukung program-program literasi sekolah dengan mensponsori kegiatan-kegiatan bazar, pesta buku, festival membaca, atau mengembangkan fasilitas di sudut buku kelas dan perpustakaan sekolah
  3. PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN SARANA DAN PARASARANA SEKOLAH
  4. Sarana
  5. Buku teks

Diinventarisir jumlah dan jenisnya. Ketentuan jumlah dan jenis buku teks adalah satu peserta didik satu set buku teks terdiri dari mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, PPKn, Bahasa Indonesia Mapel Kelompok A: Bahasa Indonesia, Matematika, Sejarah Indonesia dan Bahasa Inggris, Kelompok; B: Seni Budaya, Pendidikan Jasman, Olahraga dan Kesehatan, Kelompok; C: Peminatan Matematika dan IPA, Peminatan IPS, Peminatan Bahasa dan Budaya. Selain itu, buku teks tidak disimpan di perpustakaan, melainkan dimanfaatkan dalam pembelajaran.

  •  Buku referensi

Buku referensi harus diinventarisir jumlah dan jenisnya. Ketentuan minimal 50 judul referensi. Buku referensi bisa disimpan di area baca/sudut buku kelas/perpustakaan kelas dan dimanfaatkan dalam pembelajaran.

  • Buku pengayaan

Buku pengayaan harus diinventarisir jumlah dan jenisnya. Ketentuan Jumlah: minimal 200 judul buku pengayaan. Buku ini bisa disimpan di area baca/sudut buku kelas/perpustakaan kelas dan dimanfaatkan dalam pembelajaran.

  • Media Pembelajaran

Media pembelajaran harus diinventarisir dan disimpan di ruangan khusus (laboratorium komputer). Media pembelajaran ini dikelola dan dimanfaatkan dengan baik. Media pembelajaran ini dikelola oleh minimm satu orang petugas Lab. Setiap kelas harus mendapatkan jadwal kunjungan ke media pembelajaran ini.

  • CD Pembelajaran

CD pembelajaran harus diinventarisir jumlah dan jenisnya. CD pembelajaran ini disimpan di ruang labtikom SMA Negeri 1 Jonggat, dirawat dan dimanfaatkan dalam pembelajaran.

  • Prasarana

a) Satu rombongan belajar tidak lebih dari 32 peserta didik.

b) Satu rombongan belajar berada pada satu ruang kelas.

c) Ruang kelas memiliki sejumlah meja dan kursi.

d) Ruang Guru.

e) Ruang Kepala Sekolah.

f) Kantin.

g) Halaman Sekolah.

h) Gudang.

i) Dapur.

j) Perpustakaan.

k) Ruang UKS.

l) Kebun Sekolah.

m) Kursi.

n) Meja.

o) Lemari.

p) Rak Buku.

q) Papan Tulis.

MONITORING DAN EVALUASI GERAKAN LITERASI SEKOLAH DI SMA NEGERI 1 JONGGAT

Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan sekali dalam satu tahun yaitu pada akhir tahun pelajaran. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi sesuai dengan perannya dalam strategi pelaksanaan literasi di SMA Negeri 1 Jonggat. Hal yang dimonitoring dan evaluasi meliputi :

  1. pemenuhan indikator SNP dan efektivitas upaya pemenuhannya, terutama ketersediaan 10 judul buku referensi dan 100 judul buku pengayaan dan prasarana lain, serta pengelolaan dan pemanfaatannya;

2. keefektifan pelaksanaan kegiatan pembiasaan harian, mingguan, bulanan dan semester sebagaimana dijabarkan dalam Permendikbud No. 23 tahun 2015;

3. keefektifan pelaksanaan pelatihan guru untuk meningkatkan kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan literasi peserta didik;

4. keefektifan dan dampak pemanfaatan sarana dan prasarana sekolah dengan maksimal untuk memfasilitasi pembelajaran;

5. keefektifan dan dampak pengelolaan perpustakaan sekolah dengan baik terhadap pembelajaran dan kemampuan literasi warga sekolah;

6. keefektifan dan dampak pelaksanaan inventarisir semua prasarana yang dimiliki sekolah (salah satunya buku) terhadap pelayanan sekolah;

7. keefektifan dan dampak adanya ruang-ruang baca terhadap kemampuan literasi warga sekolah dan budaya sekolah;

8. keefektifan dan dampak pelaksanaan kegiatan 15 menit membaca sebelum pembelajaran terhadap minat dan budaya baca warga sekolah;

9. keefektifan dan dampak pembentukan Komite Literasi Sekolah yang dikoordinasikan dengan Komite Sekolah terhadap pelaksanaan berbagai kegiatan gerakan literasi yang dilaksanakan sekolah;

10. keefektifan dan dampak pelaksanaan kegiatan yang melibatkan orang tua dan masyarakat dengan melihat tindakan yang diberikan kepada peserta didik oleh orang tua dan masyarakat untuk menindaklanjuti perlakuan yang diterima peserta didik di sekolah; dan

11. keefektifan dan dampak pelaksanaan kegiatan yang dilakukan dengan pihak lain terhadap kemampuan literasi warga sekolah.

Dokumen program literasi ini diharapkan dapat memberikan fondasi dan arahan konseptual untuk memahami bagaimana arah gerakan literasi dilaksanakan di  SMA Negeri 1 Jonggat

Program ini akan terus dikembangkan secara kreatif dan inovatif agar Gerakan Literasi Sekolah di SMA Negeri 1 Jonggat  dapat mencapai hasil yang diharapkan.

Akhir kata, terbitnya Dokumen program Gerakan Literasi SMA Negeri 1 Jonggat  ini diharapkan memberikan informasi yang jelas kepada semua pihak terkait dalam memberikan dukungan dan melaksanakan perannya dalam menyukseskan Gerakan Literasi Sekolah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *