Filosofi “Adem Naon”

Bagikan artikel ini ke:

FILOSOFI ADEM NAON

Ungkapan “Adem Naon” mendadak viral baik di jagat maya maupun nyata. Apa sebab? Karena SMAN 1 Jonggat diberikan amanah oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB untuk mengadakan perhelatan akbar terkait unjuk kebolehan di bidang seni dan budaya berbasis kearifan lokal (Local Indigenous) serta prestasi yang pernah ditorehkan oleh sekolah. Perhelatan tersebut bernama “Pojok Ekspresi” edisi Adem Naon. Pemilihan nama edisi tersebut murni didasarkan atas keunikan dan implikasi yang dihajatkan setelah ungkapan itu menjadi sebuah branding.

“Adem Naon” sendiri kalau kita coba meng-Indonesia-kannya kira-kira akan menjadi “Agar Anda Tahu”. Ungkapan ini biasanya disampaikan untuk orang yang tidak tahu, belum tahu, atau pura-pura tidak tahu. Lalu, kalau kita sinkronkan dengan kegiatan Pojok Ekspresi yang sudah kita laksanakan itu, manakah dari ketiga kemungkinan yang telah terungkapkan di atas? Telisiklah petak dan palung hati kita masing-masing. Tapi yang jelas, niatan yang mengiringi kegiatan yang kemarin itu adalah semata-mata untuk mensyukuri karunia varian talenta yang diberikan Tuhan, yang dititipkan pada seluruh sivitas sekolah. Syukur yang paripurna tidak hanya sebatas kata dan hati ketika mengucapkan “Terima Kasih Tuhan/Alhamdulillah”, tapi lebih dari itu, yaitu mewujudkan semua nikmat talenta itu sesuai dengan tujuan penciptaan dan peruntukannya. Maka, di situlah Pojok Ekspresi edisi Adem Naon SMAN 1 Jonggat berada, yaitu mencoba untuk memparipurnakan dan mengumpulkan talenta-talenta yang masih berserakan menjadi sebuah bangunan ekspresi.

“Adem Naon” juga bisa dielaborasi pada khazanah literasi keislaman, yaitu ungkapan “Tahaddus Binni’mah”, sebuah ungkapan yang biasanya lahir ketika si pengucap mendapatkan nikmat dari Tuhan, meski hanya seukuran debu, yang dia ceritakan ke orang lain dengan tujuan berbagi kabar gembira, bukan untuk tujuan pamer atau Riya’. Memang, dalam situasi dan kondisi saat ini tipis perbedaan antara ungkapan pamer dan berbagi kegembiraan (nikmat). Menurut hemat saya, yang membikin perbedaan adalah niat dan tindak lanjut dari seseorang ketika mengungkapkannya. Apakah sebelum dan sesudah dia melakukannya dia berharap pujian atau sanjungan dari teman bicaranya ataukah dia hanya sekedar berbagi karunia Tuhan bersama-sama.

“Adem Naon” bisa juga dibedah dengan menggunakan pisau analisis Hermeneutika, yaitu sebuah aliran filsafat yang mempelajari interpretasi makna. Ciri khas dari aliran ini adalah dengan tetap menjaga harmonisasi ketersambungan antara teks, pengarang, dan pembaca. Ketika “Adem Naon” menjadi sebuah tema (teks) yang digagas oleh Panitia (Pengarang) yang kemudian disuguhkan kepada khalayak ramai (Pembaca), maka “Adem Naon” sudah bikin milik pribadi (Panitia) lagi, tetapi sudah menjadi milik jamaah penikmat suguhan. Artinya, pemahaman, pemaknaan, dan penafsiran terhadap “Adem Naon” bisa tetap utuh sesuai tujuan mulia penamaan dan implikasinya, ataukah bisa juga menjadi bias sesuai selera dan keterbatasan khazanah sang penikmat. So, marilah kita berpelangi dalam sebuah mosaik warna menuju sempurna.   

Wallahu A’lamu Bisshawab

*Terima kasih atas kerja keras, ikhlas, dan kreatif dari semua panitia Pojok Ekspresi Edisi Adem Naon dan panitia Peresmian Taman Literasi; juga kepada rekan-rekan sivitas sekolah di luar panitia yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari suksesnya acara Sabtu Dua Enam September Dua RIbu Dua Puluh Pukul Empat sampai Dengan Enam Sore Waktu Indonesia Tengah.

­Karena Iman Untuk Ilmu Dalam Amal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *