Tauhid Konsistensi

Bagikan artikel ini ke:

“Jika anda telah sepakat akan sesuatu setelah melalui proses urun rembuk, maka bertawakallah (menyerahkan segala sesuatu sesuai dengan takarannya kepada Tuhan)”. Inilah sekelumit statemen yang ada di dalam Alquran sebagai penegasan untuk selalu komit terhadap konsensus bersama. Penegasan ini menjadi penting ketika kesepakatan tersebut berhadapan dan berpeluang untuk berubah setelah terkena sindrom kepentingan, baik itu kepentingan pribadi maupun kelompok.

Banyak kasus di tengah-tengah komunitas kita yang membutuhkan konsistensi dari sebuah komitmen. Mulai dari permasalahan-permasalahan kecil sampai yang besar, sederhana sampai yang rumit, mengenai urusan sosial, politik, pendidikan, budaya, agama dan lain-lain. Mengapa sebuah konsistensi dibutuhkan untuk menjalani dan mengatasinya? Salah satu alasan sederhananya adalah karena kita tidak tahu tingkat entitas suatu masalah secara persis dan akurat. Kita hanya punya kemampuan prediksi dengan melihat peluang dan tantangan yang ada untuk kemudian “menetapkan” sebuah solusi.

Sering kita merasa bangga karena telah “berhasil” mengatasi sebuah masalah, namun tak jarang juga kita merasa rendah diri ketika “gagal” menempatkan sebuah alternatif untuk memecahkan kebuntuan dari sebuah permasalahan. Maka di sinilah dibutuhkan sebuah konsistensi kearifan, konsistensi harapan dan peluang. Sehingga bisa menahan laju dari sebuah kejumawaan dan kekerdilan sesaat. Sebuah batu permasalahan kalau terus ditetesi oleh konsistensi air akan menjadikan batu tersebut lekuk dan bahkan akan berlubang. Ini mengaksentuasikan bahwa tidak ada keberhasilan dan kegagalan abadi dalam medan kehidupan.

Untuk mendapatkan dan melahirkan sebuah konsistensi yang madani dibutuhkan unifikasi antara kesadaran profan (nafs) dan keasadaran transendental (akal, nurani). Kesadaran profan diciptakan sebagai kekuatan dari segala ikhtiar yang dijalankan, sedangkan kesadaran transendental dihajatkan sebagai kontrol penyeimbang proses sampai hasil yang didapatkan. Jika kesadaran nafs dibiarkan sendirian, maka bisa dipastikan akan melahirkan dan memakmurkan yang namanya inkonsistensi dan pragmatisme. Pun jika kesadaran transendental dibiarkan subur dan berkembang sendirian, maka bisa membuat mainstream kelemahan dan fatalistik.

Sehingga sangat beralasan mengapa “suatu konsistensi yang berkelanjutan dapat mengalahkan sesuatu yang supranaturalistik tetapi sesaat”.

Wallahu a’lamu bisshawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *