Sudahkah Kita Shalat?

Bagikan artikel ini ke:

Pertanyaan di atas mungkin cukup provokatif, tapi memang harus selalu ditanyakan pada dan di dalam otak kesadaran kita. Baik itu kesadaran ‘ain maupun kifayah kita, karena Nabi sering menyindir kita dengan perkataanya “berapa banyak orang yang shalat tetapi sangat sedikit yang bisa menjadikan shalatnya sebagai tiang agama“.

Kalau mau ditelisik lebih dalam, terminologi “tiang agama” itu sangat luas dan dalam maknanya. Di antaranya adalah ritual shalat mampu kita jadikan sebagai fondasi, pola pikir, attitude, empati, simpati keberagamaan individual maupun sosial kita. Boleh jadi kita rajin shalat tetapi kita tidak rajin memperhatikan keadaan orang-orang di sekeliling kita yang saat itu butuh internalisasi fungsi dari shalat yang kita jalankan. Sebab, bukti seseorang itu mampu berterimakasih atau mengingkari segala nikmat Tuhan adalah dinilai dan dilihat dari implementasi shalat yang ia jalankan.

Bangunan shalat yang ihsan adalah yang dimulai dengan rasa butuh, cinta, dan rindu akan keberadaan Tuhan dalam setiap aliran akal, kalbu, dan ruh kita. Ibarat seseorang yang mencintai dan merindukan kekasihnya, maka shalat adalah media untuk dijadikan momen “kencan” antara sang Cinta dengan pencintanya. Setelah perkencanan selesai, maka sang pencinta tidak ingin menyaksikan sang Cintanya kecewa lebih-lebih marah kepada dirinya, sebab ia tidak mampu untuk membuatnya bangga dalam memilikinya.—Karena amanah cinta yang telah terbangun adalah untuk mendatangkan manfaat bagi orang lain dan dirinya sendiri.—Karena kekuatan cinta yang ada dalam dirinya adalah untuk menjadikannya sebagai pribadi yang tegar, optimis, rendah hati, berbaik sangka, bijaksana dalam menjalani dan memaknai hidup dan kehidupan.—Karena warna cinta yang telah tercipta adalah untuk rahmatan lil ‘alamin (kedamaian, keselamatan, keharmonisan dalam segala lanskap ciptaan) bukan sebaliknya.

Sehingga, karena ia adalah kebutuhan jasmani dan spiritual kita, karena ia adalah perwujudan cinta itu sendiri di atas semua makhluk, maka tanpa diwajibkan pun sebenarnya kita akan tetap melaksanakannya dengan ringan dan menyenangkan. Tanpa ada imbalan atau pamrih (pahala) pun kita akan tetap melakoninya dengan tulus. Tanpa takut akan kesengsaraan profan (lahiriah) dan transendental (batiniah) kita tidak akan pernah sekali-kali berniat untuk meninggalkan dan menanggalkannya.

Lalu, masih perlukah kita menjadikan kebutuhan abadi sebagai sebuah beban temporal, masih pentingkah mengharapkan reward sesaat dalam sebuah ketulusan istiqomah, dan masih perlukah rasa takut buatan di tengah lingkaran pusaran cinta yang hakiki?

Sekali lagi, sudahkah kita shalat?

Wallahu a’lamu bisshawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *