Menakar Kebersamaan dalam Kurban

Bagikan artikel ini ke:

Kemarin, tepatnya tanggal 10 Dzulhijjah seluruh umat Islam yang mampu di seluruh petak-petak bumi menunaikan dua jenis ibadah sekaligus, yaitu ibadah vertikal (individu) sekaligus ibadah horizontal (sosial). Pertama, Ibadah vertikal tersebut diwujudkan dalam bentuk Haji—untuk tahun ini hanya untuk muslimin yang berada di wilayah Haramain saja—yang disempurnakan dengan wukuf di arofah (pengenalan dan pendekatan yang lebih intensif dengan sang Khalik) setelah itu dilanjutkan dengan penunaian shalat ‘Idul Adha. Kedua, ibadah horizontal (sosial) —selama tiga hari, yaitu tanggal 10, 11, dan 12 Dzulhijjah—diaksentuasikan dengan Kurban (pendekatan dan pendalaman entitas simpati dan empati kepada yang membutuhkan) yang disimbolkan dengan menyembelih kemudian membagikan daging unta, sapi, dan kambing kepada yang benar-benar membutuhkan.

Kurban berasal dari bahasa Arab dari kata “qurban” yang berarti pendekatan. Pendekatan disini lebih ditekankan kepada keharmonisan sesama manusia baru kemudian kepada-Nya. Karena Tuhan menegaskan kepada kita semua “kasihilah apa yang ada di bumi, maka niscaya semua yang ada di Langit akan mengasihimu.” Media yang digunakan untuk pendekatan tersebut tidak pernah ditentukan oleh agama, yang penting mendatangkan manfaat bagi sesama. Kalau memang kita mampunya dengan harta kekayaan kita bisa infaq, sedekah dan zakat, sedemikian juga dengan hasil-hasil pertanian, peternakan. Kalau kita hanya mampunya dengan tenaga dan pikiran, maka kita bisa juga berkurban dengan itu. Intinya, segala yang kita punyai dan ikhtiarkan bisa menjadikan kita semakin dekat dengan sesama makhluk dan juga dengan Tuhan. Demikianlah sekelumit tentang ibadah kurban.

Sejatinya, jika prosesi dan internalisasi ibadah kurban ini bisa dijadikan sebagi sebuah attitude dan berwujud dalam sebuah tatanan lingkungan yang sistemik, maka insya Allah tidak akan ada yang namanya kemiskinan, kesedihan, kemelaratan, dan kesengsaraan kultural maupun pemiskinan, penyedihan, pemelaratan, dan penyengsaraan struktural. Semuanya akan berada dalam tatanan keadaban madani bukan dalam warna hedonis-kapitalistik.

Memang, secara periodik fiqhiyah, anjuran untuk berkurban adalah sekali dalam setahun, yaitu setiap tanggal 10 sampai 12 Dzulhijjah pasca kita menunaikan shalat Ied. Tapi itu adalah pancingan awal dari Tuhan untuk membangkitkan dan mengasah sense of belonging sekaligus moral hazard kita dengan sesama. Dan kemudian pancingan awal tersebut diharapkan Tuhan menjadi warna dan perilaku keberagamaan kita dalam aktivitas sehari-hari.

Sekali-kali Tuhan tidak pernah menerima simbol dari kurban kalian, melainkan yang diterima adalah takwa dalam kebaktian kalian“.

Wallahu a’lamu bisshawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *