Kembali (ber)Qurban

Bagikan artikel ini ke:

Mungkin, kita semua kenal betul dengan istilah “qurban”. Saking akrabnya dengan kehidupan kita, seringkali kita “salah” dalam memahami dan memperlakukan pemaknaan tentang qurban tersebut.

Secara etimologi “qurban” bermakna “pendekatan” atau “melakukan sesuatu untuk menjadi lebih dekat”. Dalam rangka itulah kita mempersembahkan sesuatu kepada “sesuatu” untuk menjadi lebih dekat. Bisa jadi sesuatu itu berupa materi, tenaga, atau bahkan nyawa sekalipun untuk menjadi lebih dekat dengannya. Baik yang sifatnya temporal maupun terus menerus. Semuanya bergantung kepada entitas dan kualitas dari “sesuatu” yang kita tuju untuk didekati tersebut.

Dalam sejarah penghambaan manusia terhadap “sesuatu”, banyak sudah kita mengetahui tentang tipikal dan warna dari pengurbanan tersebut. Dimulai dari pengurbanan perasaan dari Adam setelah sekian lama menyendiri di Surga dengan segala fasilitas dan kenikmatannya, tetapi semuanya tidak membuat dia merasa sakinah. Akhirnya Tuhan menjawab kegundahannya dengan menghadirkan makhluk pelengkap sekaligus penyempurna ibadah hidupnya yaitu Hawa. Kemudian locus pengurbanan berikutnya adalah apa yang disuguhkan oleh Qabil dan Habil di dalam prosesi pencarian pasangan untuk meneruskan risalah kenabian dari bapaknya. Dari prosesi tersebut lahirlah kompleksitas kehidupan dengan segala intrik dan siasat dalam mengimplementasikan sebuah amanah. Dimana prototipe Habil adalah simbol dari sebuah kebaktian, husnuzzon dan ketuntasan dalam menjalankan sesuatu. Sedangkan Qabil adalah sebaliknya yaitu figur yang membangkang sekaligus penuh negative thinking serta gagal dalam meniati dan melakukan sesuatu. Pada akhirnya sebuah gelaran yang begitu monumental yang dihasilkan oleh kolaborasi hanif antara Ibrahim dan Ismail dalam panggung pengurbanan dunia akhirat pun tersuguhkan. Pagelaran itulah yang menjadi fondasi utama dari ritual umat Islam di seluruh dunia pada setiap tahunnya, yaitu Haji kemampuan. Beberapa item penghambaan selama berhaji diambil dari locus pengurbanan bapak dan anak ini, dan semuanya penuh makna untuk dijadikan perenungan dan pelajaran untuk kemudian diimplementasikan setelah para hujjaj tersebut pulang ke ladang ibadahnya masing-masing.

Mengapa Tuhan seolah-olah “butuh” pernak-pernik pengurbanan dari para ciptaan-Nya dan sang makhluk perlu melakukan pengurbanan ketika ingin mendapatkan sesuatu…..? Sejatinya Tuhan tidak butuh apapun dari sesuatu apapun, karena Dia Maha Segala-galanya dengan segala sifat ultra Ke-maha-annya. Dia hanya ingin melihat hamba-hambanya didalam memahami dan membuktikan makna dari “kebermilikan” dan “pertanggungjawaban” dalam wujud sebuah qurban. Pun ketika makhluk inginkan sesuatu, diperlukan prosesi (rukun) pengurbanan untuk melihat kadar keseriusan dan kebutuhannya akan sesuatu tersebut. Dalam pembuktian sejarah, ada yang berhasil dan gagal di dalam membuktikannya. Semuanya bergantung kepada niat, ikhtiar, doa, tawakal dan kerelaan yang dilakukannya.

Kini, di saat pandemi Covid-19, rasanya begitu banyak yang harus kita qurbankan, jika kita ingin mengejawantahkan kehakikian dari kebaktian terhadap sebuah amanah.

Wallahu A’lamu Bisshawab…..

Salam Idul Adha 1441 H, Semakin Dekat Semakin Mulia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *