‘Arafah

Bagikan artikel ini ke:

Hari ini, 9 Zulhijjah atau bertepatan dengan tanggal 30 Juli semua jamaah calon haji dari segala petak bumi haramain berkumpul dan berkhidmat di padang ‘arafah, padang tempat pengenalan akan jadi diri dan hakekat hidup. Mereka semua berusaha untuk menempatkan dan menjadikan diri mereka pada titik nol, nisbi dari segala sesuatu yang akan menghambatnya untuk mendekati dan mendekap Tuhan kemudian berharap tidak akan terlepas dari bimbingan dan ridha-Nya.

Menelusuri sirah, ‘Arafah adalah titik pertemuan mahabbah Tuhan yang diberikan pada Adam dan Hawa setelah sekian lama saling mencari dan menelusuri keridhaan Tuhan, setelah diturunkan dari surga sebagai konsekuensi logis dari “ketidaktaatannya” dalam memegang sebuah amanah. Ini adalah sebuah pembelajaran yang sangat berharga—terlepas dari segala skenario-Nya Tuhan—bahwa meskipun ia adalah seorang nabi, tetapi ketika dia khilaf, maka sunnah Tuhan tetap berjalan sesuai takarannya. Dan kalau dikaitkan dengan kondisi saat ini sering hanya karena seseorang itu punya jabatan tinggi, kaya raya, ataupun pengaruh yang begitu mencengkeram-menggurita, orang tersebut menjadi kebal hukum (untouchable).

Kembali ke ‘arafah, ritual ini adalah puncak dari prosesi ibadah haji. Dimana setelah sekian takbir, ruku’, sujud, tahmid, shalawat, talbiyah, dan ibadah lain yang dipersembahkan, maka diharapkan para calon haji betul-betul dan benar-benar mengenal jati dirinya dan Tuhannya. Sehingga produk ‘arafah ini nanti—yang bercirikan nilai-nilai ketuhanan-kemanusiaan—akan termanifestasikan dalam segala tarikan nafas dan gerak jasad pada diri masing-masing haji. Sungguh sebuah situasi dan kondisi yang diidamkan oleh Nabi SAW dalam setiap musim penyelenggaraan ibadah haji. Dan sangat wajar kalau Nabi menjanjikan kenikmatan dunia-akhirat (surga) bagi siapapun yang mampu mewujudkannya (mabrur).

Setelah para haji menjalani proses pematangan ruh dan jasad selama berhaji, maka dengan sendirinya ia adalah panutan bagi yang belum menunaikan/menyempurnakan rukun Islamnya. Paling tidak ia adalah cermin pada hal-hal yang berkaitan dengan konsistensi dalam beribadah. Hal itu mereka dapatkan pada atmosfir arba’in yang telah terbangun selama mereka berada di Haramain. Karena untuk mendapatkan sebuah konsistensi (istiqomah), entitas dan ritme dari sesuatu itu harus tetap dipelihara bahkan ditingkatkan frekwensinya. Kemudian selain yang berkaitan dengan ritualistik, sang haji juga diharapkan untuk meningkatkan kepekaan sosial baik dalam bentuk sikap simpatik maupun empatik yang membaur, karena keberadaan dan keberterimaan seseorang di sekelilingnya adalah dinilai dari seberapa dirindukan dan dibutuhkannya orang tersebut oleh lingkungannya. Sehingga ibadah haji tidak semata-mata ritual-formalistik belaka atau hanya sekedar ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa ia mampu secara finansial.

‘Arafah dan Ka’bah adalah titik kulminasi Ibrahim ketika diproklamirkan sebagai Khalilullah…..

Wallahu A’lamu Bisshawab.

One thought on “‘Arafah

  • July 30, 2020 at 9:14 am
    Permalink

    Ibrah yang banyak sepatutnya dapat kita petik dari prosesi sejarah yang di alami oleh baginda nabi ibrahim as dengan anaknya ismail.
    Rangakaian sejarah yang selalu mengarah pada dua unjung kutub positif dan negatif mengehendaki kebenaran tuhan dari tuhan selalu bernilai positif dan jika ingkar darinya negatif.

    Kedua hal inilah yang diwariskan nilainya dalam ritus ibadah haji terkhusus pada tahap prosesi arafah.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *