Demi (dengan) Air

Bagikan artikel ini ke:

“Sesungguhnya kami jadikan segala yang hidup dari air” begitulah penggalan penegasan Tuhan dalam kitab suci tentang keberadaan dan fungsi dari air. Ya, ciptaan Tuhan yang satu ini memang sudah terbukti dan teruji sebagai sumber kehidupan dan penghidupan makhluk-makhluk yang lain. Dengan air sesuatu yang tandus bisa menjadi miniatur surga yang penuh dengan kehijauan dan kenyamanan. Dengannya juga sesuatu itu berevolusi sesuai dengan sunnatullah penciptaannya. Dan dengan ia juga Tuhan menjadikannya sebagai sebuah kauniyah refleksi untuk lebih mematangkan sebuah proses pencarian dan pembentukan.

Air adalah gambaran dan perwakilan dari sesuatu yang elegan, dinamis, menghidupkan dan memberdayakan. Elegan dalam perspektif bahwa ia bisa berada dan survive dalam segala tatanan ruang dan waktu tanpa harus merasa terisolir, tereleminasi bahkan ter-iritasi. Dinamis dalam aplikasi bahwa ia simbol dari makhluk yang selalu mencari titik-titik dan celah-celah ikhtiar dengan tulus tanpa pernah mengeluh-kesah dan menyerah bahkan putus harap dan cita dalam mencari dan menemukan sebuah rahmat. Menghidupkan dalam eksistensi bahwa ia bisa menjadikan sesuatu yang “sekarat” menjadi normal kembali, kering menjadi subur lagi, dan “mati” menjadi hidup kembali. Dan memberdayakan dalam implementasi bahwa air mampu menjadi main resourches dan state of mind untuk exploring dan upgrade dari sebuah potensi dan posisi tertentu sesuai wilayah “amanah” masing-masing.

Banyak sudah contoh peradaban yang mampu membaca, memahami dan menerjemahkan anugerah air ini. Mulai dari peradaban mesir kuno sampai dengan peradaban mutakhir saat ini. Dan bijaknya anugerah ini diberikan Tuhan kepada semuanya tanpa mengenal latar belakang etnik, sosial, agama tertentu. Siapa yang mampu menangkap pesan dan kelebihan yang terkandung di dalamnya maka ia lah yang menjadi pioneer dan leader pada masanya tersebut, paling tidak dia mampu untuk membuktikan bahwa dirinya dan komunitasnya termasuk dalam tataran ulul albab.

Di lain sisi, banyak juga terdapat contoh-contoh dalam lembaran sejarah yang “gagal” memperlakukan anugerah air sebagaimana tujuan penciptaannya. Salah satunya adalah sebuah hunian yang begitu tenteram, damai, subur, dan serba berkelebihan sumber daya alamnya kemudian berubah menjadi kebalikannya disebabkan karena mereka para penduduknya tidak pintar didalam membaca, memahami dan dan menerjemahkannya dalam sebuah perilaku, kebijakan, dan tata kelola yang sistemik.

Ke depan, tentunya bangsa ini akan semakin “cerdas dan cerdik” dalam mengelola salah satu nikmat Tuhan ini, agar dia bisa dan terus menjadi sumber inspirasi, refleksi dan aksi kita. Karena Tuhan telah menjamin akan selalu dan selalu memberikan yang dibutuhkan oleh makhluk-makhluk Nya selama mereka mau dan “mampu” untuk menerima dan mengimbaskannya.

Wallahu a’lamu bisshawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *