Jalan yang Hidup

Bagikan artikel ini ke:

Jalan ini, jalan yang biasa kita lalui untuk memaknai sebuah ikhtiar hidup, masih terasa hangat oleh tapak-tapak kaki kita. Jejak yang menandakan bahwa mimpi dan cita-cita ini masih bersahabat dengan kita. Masih Dia mau menemani kita dengan sajian pikiran dan hati yang hijau dan menyejukkan. Yakinlah, bahwa itu semua untuk kita, makhluk yang namanya manusia. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
Sekarang, jalan itu semakin jelas dan berwarna variannya. Semakin bisa membuat kita menikmati hidup dan berterimakasih dalam dekapan kasih-sayang Tuhan. Ketika kita menikmati merah, maka yang ada adalah semangat dan kemerdekaan untuk memberikan pengabdian terbaik dalam sketsa batas maksimal kemampuan. Ketika kita menikmati biru, maka yang ada adalah kedalaman dan ketenangan untuk memaknai dan menikmati segala pemberian tak terbatas-Nya. Ketika kita menikmati hijau, maka yang ada adalah keseimbangan akal, kalbu, dan ruh kita untuk menjadikan segalanya dalam kemadanian. Pun ketika kita menikmati putih, maka yang ada adalah ketulusan dan kerelaan dalam menerima dan berbagi anugerah. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
Ke depan, kita meyakini bahwa jalan kita akan semakin mewujud dalam memberikan ruang untuk eksplorasi dan menguji, apakah jalan ini memang benar-benar jalan kita ataukah merupakan alternatif untuk menuju perjalanan hakiki kita? Itulah sebabnya mengapa kita semakin bergairah untuk menelusuri dan menjalaninya. Dan ketika masih di dalam rahim kasih-sayang ibu kita, sebenarnya hal itu sudah kita konsensuskan bersama Tuhan dengan disaksikan oleh para malaikat dan para nabi. Kemudian konsensus itu menemani dan menyatu dalam aliran darah, akal, kalbu dan cipta kita. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
Kemudian, yang terasa adalah kita, waktu, tempat, dan Tuhan sebagai destinasi akhir perjalanan makna ini. Perjalanan yang terus dan terus kita jalani dalam konsep mensyukuri dan menikmati tampa pernah ingin berpaling dan mengingkari segala rahman-rahim ini dalam bingkai rahmatan lil ‘alamin.
Sejatinya, yang pasti di atas bumi ada dua yaitu ayat-ayat Tuhan dan perubahan itu sendiri.

Wallahu a’lamu Bisshawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *