Kecerdasan Kosmos

Bagikan artikel ini ke:

Alam sungguh tercipta dan dihamparkan Tuhan untuk manusia agar bisa dibedah dan diberdayakan sesuai tujuan penciptaannya. Begitu banyak rahasia dan teka-teki yang sudah tersibak dari alam, namun di sisi lain masih lebih banyak lagi yang belum dieksplorasi dan ditemukan dari alam. Dan Tuhan selalu mengingatkan untuk terus dan terus “membaca” alam, karena, ketika suatu rahasia tersingkap maka akan muncul berjibun rahasia-rahasia baru yang perlu untuk dibongkar kembali. Demikian dan demikian seterusnya.

Ketika aktivitas penyibakan alam selesai untuk sementara waktu, maka sejatinya kita telah menciptakan sesuatu yang baru. Sesuatu yang telah dijamin oleh Tuhan untuk ditambah lagi dengan kemampuan berbuat serupa atau bahkan lebih dari itu. Maka sebenarnya tidak ada konsep berhenti ataupun mati di dalam menemukan makna dari sesuatu yang tampak. Dan itu pula yang menjadi kenikmatan tersendiri bagi para perenung ulung pada zaman-zaman terdahulu ketika bersentuhan dan bertegur sapa dengan alam.

Meminjam terminologi dari Kitab Suci, bahwa ketika seseorang tengah bergumul dengan fenomena alam, maka pada saat itu juga dia telah bermetamorfosis dan bertransformasi dalam tiga proses hirarki pemahaman sekaligus, yaitu pengetahuan yakin, persaksian yakin dan penemuan substansi yakin. Ketiga-tiganya terkadang cepat namun terkadang lambat untuk mencapai simpul dan titik simpulan; tergantung dari kejelian dan kepiawaian di dalam memahami teks dan konteks kajian yang terhamparkan; di mana piranti itu biasanya bisa didapatkan ketika kita rajin mengolah dan mengasah pikir dan hati dalam ritual merenung dan menganalisa.

Banyak sudah contoh kasus yang sudah dipaparkan oleh peristiwa dan waktu ketika manusia tidak mampu membaca alam dan bersinergi dengannya. Terbaru, tengoklah pandemi Covid-19 yang sampai saat ini menghantui negara kita, ataupun fenomena-fenomena alam lain yang terjadi akibat dari ketidakcerdasan dan ketidakpekaan kita didalam membaca dan memperlakukan alam. Lucunya justru kita malah mati rasa dan kemudian menyalahkan alam itu sendiri dengan memakai berbagai macam dalil ketidakpahaman dan kedangkalan ilmu kita.

Selayaknya kita miris dengan kenyataan-kenyataan tersebut di atas, dan kemudian bergegas untuk membenahi tata kelola dan diagram alir dari pikir dan rasa kita. Sehingga permakluman Tuhan yang mengatakan bahwa “manusia adalah sebaik-baik bentuk dan ciptaan” dari yang telah dan akan tercipta itu memang betul-betul bisa dipertanggung jawabkan secara moral dan secara ilmiah, baik di hadapan malaikat, jin, hewan dan tumbuh-tumbuhan maupun di depan Tuhan sendiri. Hingga pada akhirnya kita akan dengan tenang dan percaya diri untuk mengangkat muka kita ketika nanti padang mahsyar adalah sebuah lanskap pembuktian dan penghargaan.

Wallahu A’lam Bisshawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *