Belajar dari Tuhan

Bagikan artikel ini ke:

Boleh jadi ini adalah sebuah takdir, tapi suatu ketetapan tidak akan meruak jika tanpa kecenderungan hati untuk memintanya. Barusan saja kau bercerita pada semilirnya angin, beningnya air, heningnya malam bahwa kau lagi memilin dan memintal kepercayaan dalam keyakinan tentang kekuatan sebuah doa. Doa untuk Bumi, Langit, segala makhluk, bahkan doa untuk doa itu sendiri, yang bercerita tentang kasih sayang Tuhan yang tak terhingga dan tak terbatas.
Engkau mulai mencoba untuk menjejer-jejerkan anugerah tersebut dengan melihat kinerja matahari mulai dari semburat fajar hingga membentuk kubah maghrib, loyalitas rembulan yang selalu mendatangkan kenyamanan dan kedamaian, keikhlasan udara yang tidak pernah pamrih ketika oksigen begitu dibutuhkan, dan integritas air yang selalu menjadi sumber kehidupan. Kesemuanya itu adalah titik terkecil dari tak terhingganya lingkaran rahmat dan kasih sayang Tuhan kepada para ciptaan-Nya.
Sungguh Tuhan sebagai Maha Pemimpin atas segala ciptaan-Nya, begitu Maha Peduli, Tulus dan Bertanggung Jawab atas segala kebutuhan dan keinginan para ciptaan-Nya tersebut. Dia tidak pernah memilih dan memilah untuk merahmati dan mengasihi, Dia tidak pernah minta balasan sedikit pun atas segala yang telah diberikan, Dia tidak pernah luput sedetikpun dalam menjaga dan mengatur keseimbangan tata kosmos segala alam. Dan itu terus menerus berlaku dan berjalan selamanya.
Dan manusia yang katanya ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan ciptaan-Nya yang lain, diniscayakan untuk meneladani karakter Tuhan tersebut. Karena bagaimanapun juga, ciptaan yang satu ini dipercayai dan diyakini sebagai wakil Tuhan dalam mengelola, mengembangkan, dan mempertahankan karakteristik tersebut sampai Tuhan mencabut amanah-Nya dan memindahkannya kepada prototype ciptaan yang lain.
Maka, di sinilah peran dan fungsi akal untuk selalu berfikir, kalbu untuk selalu merenung dan nurani untuk selalu terkoneksi dengan sang Maha. Agar keinginan sang ciptaan selalu sejalan dengan keinginan Sang Pencipta. Mengutip apa yang pernah disampaikan Rumi:
“Dengan telinga-Mu aku mendengar
Dengan mata-Mu aku memandang
Dengan lidah-Mu aku berbicara

Dengan tangan-Mu aku menyentuh

Dengan kaki-Mu aku berjalan

Dengan hati-mu aku Merasa”

Sehingga pada akhirnya akan sampai pada konklusi dan implikasi, bahwa “Aku ini adalah diri-Mu, Jiwa ini adalah jiwa-Mu…”

Wallahu A’lamu Bisshawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *